KPR

Setelah kami mutusin untuk beli rumah, kami segera mikir untuk cari dananya. Kalo beli tunai pake duit sendiri jelas ngga mungkin, tabungan kami masih dikit. Kalo mau beli tunai tapi pinjem duit ortu juga ngga enak, udah gede masih ngerepotin ortu. So, we need to borrow money from somewhere alias ngutang :p sumber utang itu bisa di-ranking berdasarkan kemudahan untuk bayar utangnya. Yang paling lunak adalah ngutang ke ortu, sodara atau temen. Kita bisa nego banget untuk waktu  bayarnya, syukur-syukur kalo diikhlasin🙂 Berikutnya adalah minjem uang ke perusahaan atau koperasi. Yang ini kita juga masih bisa nego dengan jaminan status karyawan kita. Yang paling umum adalah minjem ke bank alias KPR. (Tips pertama: sebisa mungkin pinjamlah uang dari yang pembayarannya paling lunak).

Kami akhirnya ambil jalan tengah, untuk DP kami pinjam ke orang tua, sisanya kami pake KPR. Kami pengen sekecil mungkin pinjem duit pake KPR-nya yang artinya harus memperbesar DP, tapi juga ga pengen ngerepotin ortu dengan minjem duit banyak untuk DP. So, kami nego ke developernya untuk kasih waktu 6 bulan buat bayar DP yang besarnya lebih banyak dari uang yang kami pinjem ke ortu. In parallel, kami juga nyari info tentang KPR yang bagus. Ada banyak bank yang nyediain KPR dengan berbagai macam produk, tapi kami sudah sepakat untuk pake KPR syariah dengan alasan lebih merasa tenang dan cicilan tiap bulannya fix. Bank pertama yang kami coba apply adalah BTN syariah dan aplikasi kami disetujui. Waktu itu bunganya  9% (sebenernya bank syariah ga pake bunga, tapi untuk mempermudah konsumen mereka pake istilah itu). Trus kami juga apply ke BRI Syariah, mereka lagi promo dengan bunga 7%. Masa promo mereka cuma sampai 2 bulan ke depan, sedangkan kami baru bisa ngelunasin DP ke developer 6 bulan lagi. Oia, biasanya kita harus ngelunasin dulu DP ke developer sebelum bisa dapet KPR dari bank. Developer khawatir kalo belum ngelunasin DP tapi udah dapet uang KPR, konsumen ga mau bayar sisa DP-nya. Kami pun nego lagi dengan developernya supaya bikin surat pernyataan fiktif bahwa kami udah ngelunasin DP-nya. Untungnya developer percaya ama kami dan jadilah kami pake KPR BRI Syariah dengan masa KPR 10 tahun. (Tips kedua: nego dengan developer untuk bisa lebih lama bayar DP-nya, trus minta surat pernyataan DP udah lunas supaya bisa segera ngajuin KPR).

Sewaktu akad kredit, kami rada khawatir gara-gara kami tanda tangan di form yang isinya belum lengkap dan ngga ditandatangani pihak banknya karena yang seharusnya tanda tangan lagi ngga ada di tempat. Dengan akad kredit berarti pihak bank ngelunasin pembelian rumah ke developer atas nama kami. Sebagai jaminannya, surat tanah kami ditahan sama bank. Setelah akad kredit, surat tanah yang tadinya milik developer pun berganti nama jadi namaku. Badan Pertanahan Nasional biasanya perlu waktu sekitar 3 bulan untuk proses ganti nama ini. Oia, surat tanah kami sudah SHM (Sertifikat Hak Milik), beda dengan perumahan besar yang biasanya masih SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan). Enam bulan setelah akad kredit, kami baru minta copy surat tanah ke bank. Alhamdulillah prosesnya mudah dan ngga ada biaya. Selain itu juga kami dapet copy akta jual beli tanah antara kami dan developer dan akta pembiayaan KPR antara kami dengan bank. (Tips ketiga: jangan lupa untuk minta copy surat tanah ke bank beberapa bulan setelah akad kredit). Alhamdulillah kami lega sekarang karena sudah “resmi” punya rumah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s