Ironi kultur pengendara kendaraan bermotor di Jakarta

Kesellllllllll, dongkol, rasa takut, bener2 jadi nambahin capek hari2 ku menysuri Tangerang-Jakarta.

Kenapa ya, culture orang Jakarta klo bawa kendaraan pengennya kaya Stoner, padahal jelas2 mereka nyetirnya di Jalan raya, buka di Sirkuit Mogello

Kenapa ya , culture sebagain besar pengendara di jakarta suka banget menantang maut klo bawa kendaraan, padahal klo ditanya: “emang loe dah pade siap ketemu malaikat pencabut nyawa?” pasti sebagian besar langsung bilang nggak.

Kenapa ya, para bapak supir angkot dan bis yang terhormat, suka banget bikin penumpangnya serasa main Halilintar di Dufan, deg deg annnn terus. Kita ini manusia abang2, abang2 supir bukan sedang mengangkut sayuran.

Buatku yg belum memiliki mobil pribadi, transportasi publik seperti angkot dan bis menjadi satu2nya opsi, jadi what to do. Sebenarnya banyak juga para supir bis dan angkot yang sopan klo bawa angkot dan bis nya, tapi lebih banyak yg nggak sopan, ditambah lagi pengendara lain juga sama nggak sopannya, makin stress dah .

Pagi ini seperti biasa aku naik bis saat akan menuju kantor. Alhamdulillah tidak lama menunggu bis jurusan bekasi yang juga akan berhenti di pintu tol Kbn Jeruk tiba. hup, naik, dan dapat duduk di depan. Masuk tol dimulai…sudah keliatan dari awal si abang supir suka ugal ugalan bawanya, nha puncaknya saat akan tiba di pintu tol kebun jeruk, si abang nggak sabaran, dia nekat nyalip bis lain dari kiri ( bahu jalan yang paling kiri) sedangkan bahu jalan paling kiri semakin lama semakin menyempit, plus bis yang di salip nggak mau ngalah, udah dee, hampir aja bis kita bertabrakan dengan bis yang disalip plus dengan pembatas jalan, semua penumpang dah panik. Untungnya sudah sangat dekat dengan pintu Tol kebun Jeruk, jadi aku bisa segera turun.

Cerita belum selesai, untuk mencapai kantorku aku harus sedikit berjalan dari pintu TOL, dan jalana disekitar situ mmg sangat ramai, saat mau menyebarang, tiba2 ada motor belok tanpa mengurangi kecepatan, sampai kaget aku dibuatnya, belum berselang semenit, tiba2 ada motor yang cuma berjarak 2 meter dari ku, nyeruduk motor depannya…Masya Allah, pada kebelet ke belakang kali ya, sampai semuanya srudak sruduk ndak jelas.

Ya Allah, terima kasih Engkau masih berikan keselamatan buat kami semua, Hamba mohon sadarkanlah bapak Sopir tadi, agar lain kali tidak lagi seenak perutnya membuat semua penumpang panik…amin

 

2 responses to “Ironi kultur pengendara kendaraan bermotor di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s