Maaf, Makan & Main

Tahun ini giliran kami untuk lebaran di rumah orangtuaku di Indramayu. Jarak rumah kedua orangtua kami yang jauh (Indramayu & Jember) hanya memungkinkan kami lebaran di satu tempat saja.

Lebaran selalu marak dengan momen maaf-maafan. Begitu banyak tamu yang datang ke rumah untuk maaf-maafan, walaupun ada juga beberapa yang datang untuk berobat. Oia, bapak adalah seorang mantri (perawat) yang sudah lama buka praktek di rumah. Sedangkan ibu adalah pensiunan guru SD yang sebelumnya sempat cukup lama menjabat kepala sekolah. Mantan-mantan muridnya,baik yang masih sekolah maupun yang sudah punya anak,rutin datang ke rumah saat lebaran. Saking banyaknya tamu, kami jadi tidak punya waktu untuk sungkeman dengan bapak ibu. Praktis kami baru bermaaf-maafan setelah sholat Dhuhur berjamaah. Selain dengan tetangga, kami juga maaf-maafan dengan sanak famili. Keluarga besar orangtuaku punya tradisi halal bi halal setelah lebaran, keluarga ibu pada 2 syawal dan bapak pada 3 syawal.

Lebaran juga identik dengan masak & makan, begitu juga lebaran kami (lebih tepatnya Afny masak & aku makan). Kebetulan tahun ini rumah ibu menjadi tempat halal bi halal keluarga besarnya, Bani Kartawi. Ibu, mbak Nining & Afny pun berkutat di dapur. Ibu masak sambal goreng, mbak Nining bikin pecel, Afny bagian salad buah. Besoknya giliran halal bi halal keluarga besar bapak, Bani Ghazali. Kali ini ibu, mbak Nining & Afny nggak perlu masak, cukup datang dan menyantap makanan. Nah baru keesokan harinya mereka bertiga berkutat lagi di dapur, kali ini bikin nasi kuning untuk syukuran hari lahirku & Alya. Aku sudah 30 tahun & Alya baru 3 tahun🙂 . Sorenya Afny memasak makanan favoritnya, tomyam.

Lebaran kali ini juga penuh dengan acara bermain. Hari kedua lebaran mas Yandi,mbak Dian & si kecil Alya menginap di rumah. Wah, Alya sudah jauuh berbeda dengan tahun-tahun lalu, sudah nggak rewel lagi. Sudah mau diajak jalan dan main. Sudah hafal al-Fathihah & beberapa lagu. Juga sudah pintar merajuk. Hari itu Alya main terus sampai malam, tanpa tidur siang sebentar pun. Padahal kita semua udah pada capek. Waktu diajak tidur malam pun dia sudah bisa mengelak ‘Alya mau main dulu ya, nanti abis itu tidur’. Tapi ada satu yang belum berubah, Alya masih susah makan nasi. Setelah 2 suapan nasi, mbak Dian akhirnya nyerah. Nasi & sayur Alya pun di-blender, itu aja Alya masih lama makannya. Perlu 1 jam lebih untuk menghabiskannya (masih sisa beberapa suapan sih).

Selain maaf,makan & main, lebaran kali ini juga kami optimalkan untuk berbakti pada orangtua kami. Walaupun Jakarta-Indramayu cuma 2,5 jam naik kereta, nggak setiap bulan juga kami pulang. Makanya selama mudik kemarin sebisa mungkin kami habiskan waktu bersama mereka, baik membantu pekerjaan rumah atau sekedar ngobrol & bercanda untuk membahagiakan mereka. Kalau kata ustadz pas kultum dhuhur, orangtua akan senang kalau kita ‘memberikan’ diri kita, tidak hanya memberikan sesuatu di luar diri kita. Ketika kita memberikan uang atau barang, sesungguhnya yang kita berikan adalah sesuatu di luar diri kita. Namun ketika kita hadir di depan mereka, mendengarkan mereka, mengajak ngobrol mereka, saat itulah kita ‘memberikan’ diri kita untuk mereka sebagaimana mereka lakukan saat kita masih kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s