Resensi Film: SOEKARNO

Soekarno Indonesia Merdeka

Film ini adalah film besutan salah satu sutradara berkualitas Hanung Bramantyo. Akhir2 ini saya banyak mendengar dari infotaintment bahwa film yang mengangkat kisah mengenai perjuangan Soekarno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia digugat oleh salah satu putri bung Karno, Rachmawati Soekarno Putri. Menggugat pihak produser film Soekarno melalui pengadilan Niaga, karena pada awalanya konon ibu Rachmawati inilah yang mempunyai niat untuk membuat film Soekarno. Namun ditengah perjalanan, ibu Rachmawati tidak setuju dengan dipilihnya Ario Bayu sebagai pemeran sosok Soekarno. Berawal dari selisih paham inilah yang kemudian munculnya gugatan bu Rachmawati yang meminta penayangan film Soekarno di seluruh Indonesia dihentikan.
Pagi saya mendengar berita itu di Trans TV, langsung saya mengajak suami saya ke XXI. Kala itu saya bilang ke suami, “mumpung film ini belum ditarik, hayuk buruan nonton.”

Sesungguhnya awalnya tidak terlalu tertarik menonton film Soekarno ini, namun seteru ibu Rachmawati soal Ario Bayu dan soal tuduhan beliau bahwa skenario film ini tidak sesuai dengan sejarah yang menjadikan Soekarno sbg tokoh antagonis dan Syahrir sebagai tokoh protagonis, justru membuat saya penasaran. Apa iya seorang sutradara sekelas Hanung Bramantyo mau gegabah membuat film yg skenarionya menyalahi sejarah? Bukan untuk membela Hanung, Cuma masak iya dia tidak riset dulu sebelum buat film? Dengan nama besar Soekarno, dan pertalian sejarah antara Soekarno dan kemerdekaan Indonesia, rasanya bodoh saja klo film Soekarno ini adalah film yang menyalahi sejarah, bisa habis reputasi Hanung.

Untuk menjawab rasa penasaran itu, makanya saya akhir langsung nonton film Soekarno hari itu juga:D.
Saya akan mulai menceritaan sedikit gambaran filmnya. Film diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua penonton diminta berdiri dan bernyanyi bersama (saya melewatkan scene ini karena saya harus sholat ashar dulu, penayang film jam 15.25).

Film ini sedikit diawalai masa muda Soekarno yang ternyata saat Lahir bernama Kusno, namun karena sering sakit sakitan sehingga dilakukanlah ritual mengubah nma, dengan harapan kan sehat kembali. Nama Soekarno ini diambil dari tokoh pewayangan, yaitu Karna yang merupakan panglima perang Barata Yuda. Adapatasi bahasa jawa yang kemudian menjadikannya Karno dan akhirnya tercetusnya nama Soekarno.
Sedari kecil Soekarno termasuk anak yang beruntung karena dapat mengenyam pendidikan formal dengan baik hingga perguruan tinggi. Ini tak lain karena beliau masih keluarga bangsawan. Namun demikian, dari film tersebut digambarkan Soekarno sudah mulai tidak nyaman melihat bangsa pribumi banyak yang menjadi budak. Suatu hari Soekarno muda digambarkan bersilaturahim ke rumah salah satu rekan sekolahnya yang merupakan orang Belanda. Disitu Soekarno melihat banyak sekali pekerja yang memberihkan kebun adalah bangsa pribumi. Lebih-lebih saat itu Soekarno juga dimaki-maki oleh ayah teman sekolahnya tadi dengan kata-kata kasar yang intinya mereka tidak sederajat jadi tida boleh berteman lebih.

Dari situ soekarno mulai merasakan, dalam bahasa saya, betapa kurang ajarnya Beland ini, sudah menumpang di negara orang, justru penduduk asli dijadikan budak, penduduk kelas dua. Dia meluapkan kemarahannya dengan berorasi seroang diri didalam kamarnya. Film ini berusaha menunjukkan awal mula kehebatan pidato-pidato bung Karno yang sangat agitatif melalui scene tadi.

Scene Soekarno dewasa dalam film inii dimulai dengan penggambaran sosok ibu Inggit Ganarsih, istri kedua bung Karno, yang sangat besar perannya dalam perjuangan bung Karno. Bu inggit tercatat dalam sejarah (namun tidak setenar ibu Fatmawati) adalah istri Bung Karno yang membersamai bung Karno dalam masa-masa sulit perjuangan. Ibu Inggit adalah istri yang selalu setia mengikuti dan mengabdi pada suaminya dimanapun bung Karno di buang dan diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda. Dalam film ini saya baru mengetahu bahwa sosok ibu Inggit merupakan sosok yang cukup pandai dan memiliki prinsip yang kuat. Bahkan ada satu scene percakapan yang menyebutkan pendapat bu Inggit mengenai Hatta dan Syarir. Beliau mengatakan “ aku tidak suka Hatta dan Syahrir karena selalu menganggap aku sangat dominan terhadapmu (mu disini adalah bung Karno).” Ini menunjukkan bahwa ibu Inggit punya pengetahuan yang cukup sehingga dianggap syahrir dan Hatta seringkali mempengaruhi pendapat dan keputusan bung Karno.

Scene bung Karno bersama ibu Inggit dan ketiga anak angkat mereka paling lama digambarkan saat bung Karno dibuang ke bengkulu. Disinilah dikisahkan bung Karno bertemu dengan Fatmawati yang ternyata merupakan salah satu dari murid bung Karno disekolah dan teman sepermainan Kartika salah satu putri angkat bung Karno dan ibu Inggit. Saya bilang ternyata, karena memang saya baru tahu, bahkan saya juga baru mengetahui bahwa ketika bung Karno dibuang ke Bengkulu, beliau selain tetap berpolitik juga berprofesi sebagai guru. (pengetahuan sejarah saya memang parah ).
Singkat cerita digambarkan dalam film ini bahwa bung Karno dan Fatmawati saling jatuh cinta. Bung Karno meminta ijin kepada ibu Inggit untuk menikah lagi, dan sudah dapat ditebak, ibu Inggit sangat kecewa, dan digambarkan sangat marah.

Kisah cinta Fatmawati dan Soekarno terputus, saat Belanda mengalami kekalahan perang dan singkat cerita Soekarno akhirnya kembali ke Jakarta. Disinilah baru muncul tokoh Moehammad Hatta dan Sutan Syahrir. Syahrir digambarkan sebagai sosok pejuang yang sering bersebrangan dengan Soekarno, sedangkan Hatta berusaha selalu menjadi penengah bagi mereka berdua. Kala itu Sutan Syahrir selalu mempunyai pemikiran tidak akan tunduk kepada kemauan kolonial penjajah, apapun bentuknya dan apapun tujuannya. Dia lebih bersikap frontal dan menyerang untuk merebut dan mendeklarasikan kemerdekaan.

Saat belanda bangkrut karena kekalahannya pada perang Dunia II, Jepang kemudia ganti menduduki Indonesia. Saat itu Soekarno yang dikenal sebagai pemimpin yang paling wahid menaklukkan hati rakyatnya menjadi incaran Jepang untuk dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Soekarno diminta untuk melakukan kampanye-kampanye domestik yang mendukung program-program Jepang. Seperti menyerukan pemuda-pemuda Indonesia untuk ikut serta dalam barisan PETA yang merupakan cikal bakal TNI, kerja paksa untuk memenuhi kebutuhan Jepang, hasil pertanian diserahkan ke Jepang untuk keperluan logistik Jepang bahkan sampai dibuatnya lokalisasi untuk memuaskan nafsu-nafsu biadap tentara2 Jepang. Soekarno menerimanya, namun dalam film ini ditunjukkan bahwa Seokarno mau melakukan itu semua karena janji Jepang yang akan membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi masa-masa penjajahan Jepang memang seringkali bisa dilihat dari berbagai sisi tergantung posisi dia saat itu. Untuk para pejuang intelektual seperti halnya Soekarno, Hatta, Amir Sjarifudin, dll, mungkin saat itu justru angin segar akan peluang kemerdekaan republik ini, namu buat para rakyat kecil itu saat mengenaskan ketika mereka harus menjalani romusha kerja paksa, para wanita itu saat mengenaskan ketika mereka harus melayani nafsu bejat tentara2 jepang, para tentara PETA mereka harus ikut berperang untuk kepentingan Jepang yang bukan tanah airnya.

Disisi lain, Syahrir sangat menentang keras sikap Soekarno yang sangat mau berkompromi dengan pemerintahan Jepang dan menganggap itu tidak akan berhasil untuk meraih kemerdekaan Indonesia bahkan dianggap takluk pada dominasi Jepang. Beberapa perseteruan antara Soekarno dan Syahrir digambarkan dalam film ini, dan lagi-lagi bung Hatta selalu berusaha menengahi.

Tanggal 12 Agustus 1945, pemerintahan Jepang menyatakan Indonesia sudah lepas dari kekuasaan Jepang. Saat itu mereka mengatakannya didepan Soekarno dan Hatta. Namun buat Syahrir itu tidak cukup. Syahrir mengatakan kita wajib memplokamirkan kemerdekaan kita, karena kemerdekaan Indonesia bukan hadiah Jepang. (lagi –lagi saya baru tahu jika ide proklamasi justru berawal dari sutan Syahrir, tapi mengapa sejarah yang saya pelajari sewaktu SMU dulu tidak mengatakan hal itu). Saat itu Soekarno tidak menyepakati saran dari syahrir. Sampai kemudian sekelompok pemuda sempat menculik bung Hatta dan Bung Karno ke yogyakarta untuk memproklamirkan kemerdekaan RI. Saat mengetahui hal itu, bung Syahrir marah besar, dan meminta bung Karno dan bung Hatta dikembalikan ke Jakarta.

Ada sebuah scene yang menggambarkan bung Karno, bung Hatta kembali dipertemukan dengan para petinggi Jepang termasuk Laksamana Maeda. Dalam pertemuan tersebut dikatakan bahwa Jepang telah menyerahkan kekuasaan terhadap indonesia pada Sekutu karena Jepang telah dikalahkan oleh sekutu. Padahal beberapa hari sebelumnya Jepang telah menyerahkan kemerdekaan RI dan selama ini telah berjanji kepad Soekarno dan Hatta bahwa mereka akan membantu kemerdekaan RI jika Soekarno mau mengagitasi rakyat Indonesia membantu kepentingan Jepang. Saat itu saya baru menyadari bahwa bukan hanya bung Karno yang singa, tapi juga bung Hatta. Ditengah –tengah kemarahan bung Karno yang dibungkus dengan sikap diam, bung Hatta bersuara: “ ini kah janji seorang Samurai?” sontak pernyataan bung Hatta langsung memicu amarah salah satu petinggi Jepang, namun diredam oleh Laksamana Maeda. Laksamana Maeda berkata: “ kita sudah kalah, jangan lebih permalukan diri kita lagi dengan mengingkari janji.”

Suami saya berujar: “ini menggambarkan kenyataan bahwa Jepang punya harga diri yang tinggi. Banyak warga negara Jepang yang malu dengan catatan sejarah bangsanya yang pernah memperbudak Indonesia.”
Laksamana Maeda lha yang kemudian menjamin keselamatan Soekarno Hatta dan beberapa kawan lainnya saat proklamasi kemerdekaan. Dan scene film ditutup dengan prosesi proklamasi RI dengan menggunakan suara asli bung Karno.
Kembali ke kisah ibu Inggit. Diceritakan dalam film ini ibu Inggit masih menemani Soekarno di Jakarta setelah sekembalinya dari pengasingan, dan mendampingi beliau dalam perjuangan kemerdekaan. Namun Sokearno tetap berhubungan dengan Fatmawati. Digambarkan walapun Fatmawati tahu Soekarno telah beristri, namun Fatmawati tetap ingin menikah dengan bung Karno. Soekarno sangat tidak ingin menceraikan Inggit, karena beliau tahu bagaiman Inggit menunjukkan baktinya bagi seorang istri kepada Soekarno. Namun diceritakan dalam film ini bahwa Soekarno menginginkan keturunan, sehinggah disamping karena memang telah jatuh cinta pada Fatmawati, Bung Karno bermaksud memadu Inggit untuk mendapatkan keturunan dari Fatmawati. Namun ibu inggit tetap pada prinsipnya, dia tidak mau di madu, sehingga beliau mundur dan meminta untuk dicerai. Ada adegan dimana bu Inggit mengatakan: “ sudah cukup aku mendampingimu sampai gerbang perjuangan ini.” dan saat ibu Inggit memakaikan kopiah kepada bung Karno serta merapikan bajunya untuk yang terakhir kalinya sambil menangis, akupun ikut menangis. Inilah salah satu scene yang membuatku menangis selain scene romusha. Aku seakan bisa berempati dengan apa yang dirasakan ibu Inggit saat itu. Beliau yang ada pada saat-saat sulit bung Karno, namun akhirnya harus ditinggalkan demi Fatmawati yang kemudian menjadi ibu negara. Seperti sebuah karma, ketika ia meninggalkan suaminya demi bung Karno.

Film ini menurut saya cukup berhasil untuk menceritakan Soekarno sebagai seorang tokoh intelektual yang dimiliki bangsa Indonesia yang kemudian menjadi salah satu yang paling berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang juga seorang manusia dengan kisah-kisah cintanya dan pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak semua benar. Cukup berhasil disini saya wakilkan dengan indikator bahwa film ini proporsional, tidak dilebih-lebihkan, tidak dkurang kurangi, tidak ditutup tutupi, tidak hanya menggambarkan kehebatan-kehebatan Soekarno saja yang mungkin selama ini lebih banyak didengar, tetapi juga kelemahannya, juga Kehebatan-kehebatan tokoh lain yang mungkin tidak setenar bung Karno.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s