Budaya Discouragement pada Sebagian Sidang Ujian di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu membaca status FB seorang teman
“lesson learned today: Jadi penguji tidak perlu galak”
Status tersebut terkait moment dimana dia melalui salah satu sidang atau ujian dalam rangkaian pendidikan doktornya, klo di Indonesia mungkin disebut ujian kualifikasi, yang menyatakan riset kita layak dan on the track untuk menjadi disertasi S3.
Kemudian beberapa pekan kemudian giliran saya yang menjalani sidang serupa namun di Indonesia. Dalam sidang ujian tersebut terdapat 5 orang penguji. Layaknya sebuah sidang pada umumnya, saya harus menyiapkan lima exemplar buku kualifikasi doktor yang berisi studi awal penelitian, perumusan masalah dan detail metodologi penelitian. Saya diberikan waktu presentasi 20-30 menit untuk menjelaskan apa yang sudah saya kerjakan selama dua semester ini dan bagaimana roadmap penelitian kedepan.
Sesi Tanya jawab dimulai sudah…dimulai dari seorang Profesor yang punya background pendidikan Amerika. Dia mengawali pertanyaan dan komentarnya dengan compliment untuk menghargai apa yang sudah saya kerjakan, kemudian menunjukkan kelemahan dan memberikan saran untuk beberapa hal, mostly beliau puas dengan progress selama dua semester ini. Beberapa penguji berikutnya juga melakukan hal serupa, memberikan beberapa pertanyaan dan meminta klarifikasi serta menunjukkan rasa satisfied jika saya berhasil membuat mereka memahami apa yang mereka pertanyakan. Saya banyak sekali mendapatkan saran dan input untuk melakukan penelitian lanjutan yang tentunya akan jauh lebih berat.
Tiba giliran penguji terakhir. Beliau meamang terkenal sebagai “bintangnya” penguji di cluster penelitian Wireless and Signal Processing. Berbeda 180 derajad dari komentar sebelumnya, beliau mengawali komentarnya dengan kalimat negative dan bertolak belakang dengan sebagian besar penguji lainnya.
“ Tulisan anda ini tidak jelas alurnya, penelitian yang diajukan tidak nampak noveltynya, banyak persamaan matematis yang tidak jelas …dan bla bla bla.”
Untungnya beliau diberi kesempatan bertanya agak akhir jadi saya tidak terlalu shock. Beliau memberikan banyak sekali pertanyaan, dan saya berusaha menjawab sebaik yang saya pahami. Namun tak satupun jawaban saya yang memuaskan beliau…TAK SATUPUN….
Akhirnya setelah diberikan “kode” oleh promotor saya, saya berhenti berargumen, saya lebih banyak mengangguk “iya” (untuk tidak memperpanjang perdebatan). Tanpa terasa ujian kualifikasi tersebut saya lewati selama DUA Jam lebih, yang mana pada umumnya ujian kualifikasi hanya berdurasi 1 jam.
Hal ini nampak berbeda ketika saya melalui ujian thesis master saya di Malaysia, saya yang sudah sangat tegang, menjadi amat rilex karena semua penguji menempatkan posisinya sebagai partner diskusi.
Setelah saya selesai, giliran salah satu rekan saya yang harus melakukan ujian kualifikasi dengan komposisi penguji yang sama, Tak berselang kurang dari satu jam, teman saya ini keluar dari ruang sidang dengan wajah murung dan menahan tangis yang sudah menggantung di mata. Penyebabnya…kurang lebih sama dengan apa yang saya alami😀, bedanya mental saya lebih kuat ….hehe. Menurut informasi promotor kami yang kebetulan sama, teman saya ini karena sudah jatuh mentalnya, akhirnya jadi tidak bisa berkutik dan malah lebih banyak diam tidak menjawab pertanyaan.
Beberapa hari yang lalu suami saya menunjukkan salah satu tulisan Prof Rhenald Kasali di bukunya yang berjudul “Self Driven”.
Alkisah suatu saat, dimana Rhenald Khasali dan keluarganya baru menetap di Amerika. Salah satu anaknya ada yang diberikan tugas untuk membuat essay dengan bahasa Inggris. Setelah sang ayah melihat essay anaknya, sang ayah sangat khawatir karena keterbatasan kosakata bhs Inggris yang dikuasai sang anak, dan juga tata bahasanya. Sang ayah sudah memprediksi bahwa anaknya akan mendapatkan nilai jelek di tugas essay tersebut. Namun ternyata, alih alih mendapat nilai jelek, sang anak justru mendapat nilai E for Excellent.
Kemudian sang ayah, pak Rhenald Kasali ini, mendatangi sekolah anaknya dan memprotes gurunya…dia takut klo hanya dengan karya yang tidak bagus saja anaknya sudah diberi nilai bagus, sang anak akan cepat puas.
Lantas sang guru bertanya: “ Apakah anda berasal dari Indonesia?”. Iya benar sahut Pak RK, lalu sang guru menimpali: “ sudah saya duga, banyak sekali orang tua dari Indonesia yang mengkomplain hal serupa.”, “ Anda lahir dan dibesarkan di budaya pendidikan yang mengedepankan “discouragement” bukan “encouragement”. “ Anak anda baru saja datang ke Amerika, lantas sudah saya beri tugas membuat essay dengan menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya, apa yang sudah anak bapak lakukan sudah bagus. Dan tentunya seiring berjalannyya waktu dia pasti akan belajar untuk menghasilkan essay yang lebih baik”

Discouragement, mungkin bahasa yang tepat untuk menyatakan kata “galak” seperti yang diutarakan teman saya tadi….ya, tanpa kita sadari itulah budaya pendidikan di Negara kita, utamanya di perguruan tinggi mungkin. Yang lebih mengedepankan discouragement atau sering dialibikan dengan “test/uji mental” yang banyak terjadi saat ujian sidang ntah tugas akhir skripsi, thesis dan sebagainya.
Nasehat buat saya pribadi dan mungkin teman teman yang juga berprofesi sebagai pendidik, bahwasanya:
1. Kata kata atau sikap negative yang bersifat mempermalukan, menjatuhkan mental atau harga diri, menurunkan rasa percaya diri, membuat tidak berdaya, itu salah satu bentuk kekerasan psikis yang boleh jadi tidak kita sadari (Pudji Sulistiowati S.Psi).
2. Ketika saya bertanya pada Profesor saya setelah ujian selesai, mengenai sikap salah satu penguji tersebut, beliau bilang, “itu hanya menguji mental kamu saja”. (saya juga agak bingung, mhs S3 kok di uji mentalnya ).
Ok lha klopun konteksnya untuk menguji mental, berharap sang siswa didik punya karakter yang lebih kuat dan berani, namun ternyata secara ilmu psikologis sikap seperti itu sama sekali tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku bahkan berpotensi besar menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa, apalagi untuk mahasiswa yang sudah mememiliki rasa “harga diri” yang lebih tinggi.
Ya efek yang paling keliatan adalah penurunan sifat “killer” sebagian besar dosen dosen penguji di Indonesia. Mereka melakukan hal tersebut karena mereka dulu juga dibegitukan😀
3. Khusus untuk pendidik di perguruan tinggi. Seharusnya kita bisa lebih melihat mahasiswa kita setara dengan kita dalam hal diskusi ilmiah, agar mereka berani mengemukanan pendapat sehingga banyak tercetus ide atau gagasan baru. Karena sejatinya mahasiswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan mandiri untuk siap menghadapi dunia kerja. Sehingga ketika kita menguji seorang mahasiswa, jangan tempatkan mereka pada posisi sebagai sosok dengan kepala kosong, yang tidak tau apa apa. Anggap mereka datang sebagai setengah gelas terisi, yang setengah isinya digunakan untuk menjawab, mengklarifikasi dan menjelaskan apa yang sudah mereka kerjakan dan setengah kosongnya digunakan untuk menampung masukan dan saran dari penguji.
Demikian halnya dengan penguji, sebelum menguji baca dulu naskah yang mau diuji. Dan ubah mindset, bahwa anda juga datang sebagai gelas setengah terisi, yang setengah isinya digunkana untuk memberikan saran berdasarkan pengetahuan kepakaran yang dimiliki, setengahnya untuk menampung informasi yang diberikan oleh mahasiswa yang diuji. Sehingga ujian menjadi lebih bermanfaat dan tidak membuat stress mahasiswa.

4. Menurut saya pribadi, mind-set menguji dirubah menjadi meminta klarifikasi. Sehingga bahasa yang digunakan akan lebih mereka tangkap sebagai sebuah bahasa diskusi.
Contoh:

Bahasa menguji:
“ coba jelaskan mengenai persamaan poisson yang anda gunakan dalam model matematik anda?”

Bahasa klarifikasi:
“ Anda menggunakan persamaan poisson dalam pembentukan model matematik studi kasus anda, saya kurang paham apa alasannya? Bagaimana anda menurunkannya?”

Nha bahasa meminta klarifikasi akan cenderung lebih kontruktif dan menggali informasi.

Dan jika memang mahasiswa memang sudah mampu menjelaskan dan membuat anda menjadi paham, tidak ada salah nya untuk memberikan compliment, seperti misalnya:

“ Ok, terima kasih, saya sudah paham maksud anda”……Jangan terus dimentahkan.

5. Hindari menggunkan kata-kata atau sikap negative karena justru akan menjatuhkan mental mahasiswa kita. Seperti halnya kasus kawan saya tadi, saya tau persis betapa ia sudah belajar setengah mati mempersiapkan semuanya, dan karena jatuh mentalnya dengan kata kata dan sikap negative salah satu penguji tersebut, justru membuatnya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan penguji. Jadi examiner tidak mendapatkan informasi yang diperlukan kan?…Apakah itu yang ditujukan dalam sebuah sidang ujian ntah untuk apapun itu?
Last but not least, MARI MENJADI PENGUJI YANG MENJADI PATNER DISKUSI
IMHO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s