Urgensi Membentuk Keluarga Islam: Komunikasi antar Suami Istri dan Pola Asuh Anak Dari Sisi Psikologi

#Bagian 1: Komunikasi antar Suami Istri

#Tasqif

Nara Sumber: Santy Meliawati MPsi (Praktisi Psikologi)

Komunikasi Suami Istri

(KOPISUSU: Komitmen, Openness, Proactive, Iklas, Supel dan Syukur)

Komunikasi Suami Istri menjadi salah satu pilar yang harus dibangun sehat yang erat kaitannya dalam peranannya sebagai orang tua. Komunikasi yang sehat antara suami dan istri diharapkan akan menjadi muara dari terbangunnya pola asuh anak yang baik.

Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam membangun Komunikasi yang sehat antara suami dan istri

  1. Komitmen

Sepanjang perjalanan berumah tangga adalah proses Long Life Learning. Belajar untuk saling memahami dan “mempengaruhi” menuju perubahan yang lebih positif satu sama lain. Diperlukan sebuah komitmen yang betul betul kuat agar kemudian kedua belah pihak mampu menjalani proses belajar tersebut dengan baik.

Visi dan Misi keluarga menjadi urgent untuk memudahkan kita dalam berkomitmen dalam berumah tangga.

Buatlah visi dan misi keluarga anda, visi dan misi untuk masing masing pribadi, visi dan misi untuk putra putri anda. Tempel di ruang dimana seluruh anggota keluarga bisa mengakses bersama.  Ini akan membantu dalam menguatkan komitmen dalam membentuk keluarga yang islami.

  1. Openness

Keterbukaan antara suami istri mutlak diperlukan dalam membangun komunikasi yang sehat.

Asertif; Bersikaplah terbuka dengan senantiasa berkomunikasi dengan bahasa yang nyaman untuk pasangan. Hindari menggunakan bahasa bahasa yang bersifat “keakuan”, gunakan bahasa bahasa yang bersifat asertif.

Terbuka disini juga dapat diartikan dengan membudayakan untuk “memulai” komunikasi terlebih dahulu. Sehingga setiap ada masalh yang muncul dapat didiskusikan dengan baik.

Feedback; ketika respon dr pasangan yang dinantikan tidak sesuai harapan maka akan timbul gap yang menyulut kekecewaan. Nha hal ini harus dikomunikasikan, jangan hanya diam. Biasakan untuk memberikan respon atas setiap masukan atau kritik. Dan biasakan pula untuk mencapaikan masukan atau ide atau kritik dengan cara yang

  1. Proactive

Saat berkomunikasi budayakan untuk lebih banyak bahasa “memberi” dan “memberdayakan” pasangan. Hal ini akan dapat menstimulus satu sama lain untuk terus belajar untuk perubahan ke arah yang lebih positif.

  1. Iklas

Budayakan untuk selalu dapat memaafkan pasangan dan budayakan untuk MemVERBALkannya.

Budayakan pula untuk melakukan sesuatu jangan selalu mengharapkan balasan yang sesuai kita inginkan. Setiap pasangan punya komitmen dalam pembagian peran dalam rumah tangga. Jalani peran tersebut dengan iklas. Jangan merasa hal itu merupakan sebuah pengorbanan. Lakukan dan jalani peran kita dengan Iklas maka Allah akan menilainya sebagai ibadah, dan hati kita pun tenang.

  1. Supel

Suami dan Istri berangkat dari dua keluarga besar yang berbeda. Bisa jadi suku berbeda, Negara berbeda dsb. Potensi besar perbedaan budaya akan jelas terlihat. Hampir tidak mungkin menyamakan semua perbedaan tersebut. Yang mungkin dilakukan adalah belajar untuk memahami perbedaan jika itu bukan terkait akidah.

Bagaimana untuk dapat memahami pasangan kita? Jadilah pribadi yang supel, yang mau mengenal dan dekat dengan keluarga besar pasangan. Sehingga kita mudah untuk mengenali memahami dan beradaptasi dengan budaya pasangan kita.

  1. Syukur

Suami atau istri yang sekarang ada disamping kita adalah jodoh yang Allah telah pasangkan untuk kita. Belajar bersyukur dengan segala kondisi pasangan kita bukan berarti kita pasrah dan diam dengan segala hal yang mungkin masih “kurang” dari pasangan. Namun syukur disini akan membantu kita untuk senantiasa mencari SOLUSI bukan hanya menyalahkan dari setiap gesekan atau permasalahan yang muncul dalam rumah tangga.

Kita juga akan terstimulus untuk membantu sama lain untuk terus belajar dan berubah ke arah yang lebih baik.

Semisal ada gesekan, seringkali utamanya ibu ibu nie, Cuma dipendam dalam hati. “Coba ya suamiku orangnya lebih peka.” “Coba ya istriku orangnya lebih perhatian dan mau menghargai.” Dan seterusnya. Ini bentuk tidak bersyukur. Jika kita bersyukur dengan pasangan yang Allah karuniakan untuk kita, maka kita akan mengkomunikasinnya….bagaimana agar kemudian pasangan kita menjadi lebih perhatian, lebih mau menghargai dst, tidak hanyak ngedumel disimpan dalam hati sambil berandai andai yang justru potensi memunculkan masalah yang lebih besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s