Urgensi Membentuk Keluarga Islam: Komunikasi antar Suami Istri dan Pola Asuh Anak Dari Sisi Psikologi

#Bagian 1: Komunikasi antar Suami Istri

#Tasqif

Nara Sumber: Santy Meliawati MPsi (Praktisi Psikologi)

Komunikasi Suami Istri

(KOPISUSU: Komitmen, Openness, Proactive, Iklas, Supel dan Syukur)

Komunikasi Suami Istri menjadi salah satu pilar yang harus dibangun sehat yang erat kaitannya dalam peranannya sebagai orang tua. Komunikasi yang sehat antara suami dan istri diharapkan akan menjadi muara dari terbangunnya pola asuh anak yang baik.

Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan dalam membangun Komunikasi yang sehat antara suami dan istri

  1. Komitmen

Sepanjang perjalanan berumah tangga adalah proses Long Life Learning. Belajar untuk saling memahami dan “mempengaruhi” menuju perubahan yang lebih positif satu sama lain. Diperlukan sebuah komitmen yang betul betul kuat agar kemudian kedua belah pihak mampu menjalani proses belajar tersebut dengan baik.

Visi dan Misi keluarga menjadi urgent untuk memudahkan kita dalam berkomitmen dalam berumah tangga.

Buatlah visi dan misi keluarga anda, visi dan misi untuk masing masing pribadi, visi dan misi untuk putra putri anda. Tempel di ruang dimana seluruh anggota keluarga bisa mengakses bersama.  Ini akan membantu dalam menguatkan komitmen dalam membentuk keluarga yang islami.

  1. Openness

Keterbukaan antara suami istri mutlak diperlukan dalam membangun komunikasi yang sehat.

Asertif; Bersikaplah terbuka dengan senantiasa berkomunikasi dengan bahasa yang nyaman untuk pasangan. Hindari menggunakan bahasa bahasa yang bersifat “keakuan”, gunakan bahasa bahasa yang bersifat asertif.

Terbuka disini juga dapat diartikan dengan membudayakan untuk “memulai” komunikasi terlebih dahulu. Sehingga setiap ada masalh yang muncul dapat didiskusikan dengan baik.

Feedback; ketika respon dr pasangan yang dinantikan tidak sesuai harapan maka akan timbul gap yang menyulut kekecewaan. Nha hal ini harus dikomunikasikan, jangan hanya diam. Biasakan untuk memberikan respon atas setiap masukan atau kritik. Dan biasakan pula untuk mencapaikan masukan atau ide atau kritik dengan cara yang

  1. Proactive

Saat berkomunikasi budayakan untuk lebih banyak bahasa “memberi” dan “memberdayakan” pasangan. Hal ini akan dapat menstimulus satu sama lain untuk terus belajar untuk perubahan ke arah yang lebih positif.

  1. Iklas

Budayakan untuk selalu dapat memaafkan pasangan dan budayakan untuk MemVERBALkannya.

Budayakan pula untuk melakukan sesuatu jangan selalu mengharapkan balasan yang sesuai kita inginkan. Setiap pasangan punya komitmen dalam pembagian peran dalam rumah tangga. Jalani peran tersebut dengan iklas. Jangan merasa hal itu merupakan sebuah pengorbanan. Lakukan dan jalani peran kita dengan Iklas maka Allah akan menilainya sebagai ibadah, dan hati kita pun tenang.

  1. Supel

Suami dan Istri berangkat dari dua keluarga besar yang berbeda. Bisa jadi suku berbeda, Negara berbeda dsb. Potensi besar perbedaan budaya akan jelas terlihat. Hampir tidak mungkin menyamakan semua perbedaan tersebut. Yang mungkin dilakukan adalah belajar untuk memahami perbedaan jika itu bukan terkait akidah.

Bagaimana untuk dapat memahami pasangan kita? Jadilah pribadi yang supel, yang mau mengenal dan dekat dengan keluarga besar pasangan. Sehingga kita mudah untuk mengenali memahami dan beradaptasi dengan budaya pasangan kita.

  1. Syukur

Suami atau istri yang sekarang ada disamping kita adalah jodoh yang Allah telah pasangkan untuk kita. Belajar bersyukur dengan segala kondisi pasangan kita bukan berarti kita pasrah dan diam dengan segala hal yang mungkin masih “kurang” dari pasangan. Namun syukur disini akan membantu kita untuk senantiasa mencari SOLUSI bukan hanya menyalahkan dari setiap gesekan atau permasalahan yang muncul dalam rumah tangga.

Kita juga akan terstimulus untuk membantu sama lain untuk terus belajar dan berubah ke arah yang lebih baik.

Semisal ada gesekan, seringkali utamanya ibu ibu nie, Cuma dipendam dalam hati. “Coba ya suamiku orangnya lebih peka.” “Coba ya istriku orangnya lebih perhatian dan mau menghargai.” Dan seterusnya. Ini bentuk tidak bersyukur. Jika kita bersyukur dengan pasangan yang Allah karuniakan untuk kita, maka kita akan mengkomunikasinnya….bagaimana agar kemudian pasangan kita menjadi lebih perhatian, lebih mau menghargai dst, tidak hanyak ngedumel disimpan dalam hati sambil berandai andai yang justru potensi memunculkan masalah yang lebih besar.

Budaya Discouragement pada Sebagian Sidang Ujian di Indonesia

Beberapa waktu yang lalu membaca status FB seorang teman
“lesson learned today: Jadi penguji tidak perlu galak”
Status tersebut terkait moment dimana dia melalui salah satu sidang atau ujian dalam rangkaian pendidikan doktornya, klo di Indonesia mungkin disebut ujian kualifikasi, yang menyatakan riset kita layak dan on the track untuk menjadi disertasi S3.
Kemudian beberapa pekan kemudian giliran saya yang menjalani sidang serupa namun di Indonesia. Dalam sidang ujian tersebut terdapat 5 orang penguji. Layaknya sebuah sidang pada umumnya, saya harus menyiapkan lima exemplar buku kualifikasi doktor yang berisi studi awal penelitian, perumusan masalah dan detail metodologi penelitian. Saya diberikan waktu presentasi 20-30 menit untuk menjelaskan apa yang sudah saya kerjakan selama dua semester ini dan bagaimana roadmap penelitian kedepan.
Sesi Tanya jawab dimulai sudah…dimulai dari seorang Profesor yang punya background pendidikan Amerika. Dia mengawali pertanyaan dan komentarnya dengan compliment untuk menghargai apa yang sudah saya kerjakan, kemudian menunjukkan kelemahan dan memberikan saran untuk beberapa hal, mostly beliau puas dengan progress selama dua semester ini. Beberapa penguji berikutnya juga melakukan hal serupa, memberikan beberapa pertanyaan dan meminta klarifikasi serta menunjukkan rasa satisfied jika saya berhasil membuat mereka memahami apa yang mereka pertanyakan. Saya banyak sekali mendapatkan saran dan input untuk melakukan penelitian lanjutan yang tentunya akan jauh lebih berat.
Tiba giliran penguji terakhir. Beliau meamang terkenal sebagai “bintangnya” penguji di cluster penelitian Wireless and Signal Processing. Berbeda 180 derajad dari komentar sebelumnya, beliau mengawali komentarnya dengan kalimat negative dan bertolak belakang dengan sebagian besar penguji lainnya.
“ Tulisan anda ini tidak jelas alurnya, penelitian yang diajukan tidak nampak noveltynya, banyak persamaan matematis yang tidak jelas …dan bla bla bla.”
Untungnya beliau diberi kesempatan bertanya agak akhir jadi saya tidak terlalu shock. Beliau memberikan banyak sekali pertanyaan, dan saya berusaha menjawab sebaik yang saya pahami. Namun tak satupun jawaban saya yang memuaskan beliau…TAK SATUPUN….
Akhirnya setelah diberikan “kode” oleh promotor saya, saya berhenti berargumen, saya lebih banyak mengangguk “iya” (untuk tidak memperpanjang perdebatan). Tanpa terasa ujian kualifikasi tersebut saya lewati selama DUA Jam lebih, yang mana pada umumnya ujian kualifikasi hanya berdurasi 1 jam.
Hal ini nampak berbeda ketika saya melalui ujian thesis master saya di Malaysia, saya yang sudah sangat tegang, menjadi amat rilex karena semua penguji menempatkan posisinya sebagai partner diskusi.
Setelah saya selesai, giliran salah satu rekan saya yang harus melakukan ujian kualifikasi dengan komposisi penguji yang sama, Tak berselang kurang dari satu jam, teman saya ini keluar dari ruang sidang dengan wajah murung dan menahan tangis yang sudah menggantung di mata. Penyebabnya…kurang lebih sama dengan apa yang saya alami😀, bedanya mental saya lebih kuat ….hehe. Menurut informasi promotor kami yang kebetulan sama, teman saya ini karena sudah jatuh mentalnya, akhirnya jadi tidak bisa berkutik dan malah lebih banyak diam tidak menjawab pertanyaan.
Beberapa hari yang lalu suami saya menunjukkan salah satu tulisan Prof Rhenald Kasali di bukunya yang berjudul “Self Driven”.
Alkisah suatu saat, dimana Rhenald Khasali dan keluarganya baru menetap di Amerika. Salah satu anaknya ada yang diberikan tugas untuk membuat essay dengan bahasa Inggris. Setelah sang ayah melihat essay anaknya, sang ayah sangat khawatir karena keterbatasan kosakata bhs Inggris yang dikuasai sang anak, dan juga tata bahasanya. Sang ayah sudah memprediksi bahwa anaknya akan mendapatkan nilai jelek di tugas essay tersebut. Namun ternyata, alih alih mendapat nilai jelek, sang anak justru mendapat nilai E for Excellent.
Kemudian sang ayah, pak Rhenald Kasali ini, mendatangi sekolah anaknya dan memprotes gurunya…dia takut klo hanya dengan karya yang tidak bagus saja anaknya sudah diberi nilai bagus, sang anak akan cepat puas.
Lantas sang guru bertanya: “ Apakah anda berasal dari Indonesia?”. Iya benar sahut Pak RK, lalu sang guru menimpali: “ sudah saya duga, banyak sekali orang tua dari Indonesia yang mengkomplain hal serupa.”, “ Anda lahir dan dibesarkan di budaya pendidikan yang mengedepankan “discouragement” bukan “encouragement”. “ Anak anda baru saja datang ke Amerika, lantas sudah saya beri tugas membuat essay dengan menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya, apa yang sudah anak bapak lakukan sudah bagus. Dan tentunya seiring berjalannyya waktu dia pasti akan belajar untuk menghasilkan essay yang lebih baik”

Discouragement, mungkin bahasa yang tepat untuk menyatakan kata “galak” seperti yang diutarakan teman saya tadi….ya, tanpa kita sadari itulah budaya pendidikan di Negara kita, utamanya di perguruan tinggi mungkin. Yang lebih mengedepankan discouragement atau sering dialibikan dengan “test/uji mental” yang banyak terjadi saat ujian sidang ntah tugas akhir skripsi, thesis dan sebagainya.
Nasehat buat saya pribadi dan mungkin teman teman yang juga berprofesi sebagai pendidik, bahwasanya:
1. Kata kata atau sikap negative yang bersifat mempermalukan, menjatuhkan mental atau harga diri, menurunkan rasa percaya diri, membuat tidak berdaya, itu salah satu bentuk kekerasan psikis yang boleh jadi tidak kita sadari (Pudji Sulistiowati S.Psi).
2. Ketika saya bertanya pada Profesor saya setelah ujian selesai, mengenai sikap salah satu penguji tersebut, beliau bilang, “itu hanya menguji mental kamu saja”. (saya juga agak bingung, mhs S3 kok di uji mentalnya ).
Ok lha klopun konteksnya untuk menguji mental, berharap sang siswa didik punya karakter yang lebih kuat dan berani, namun ternyata secara ilmu psikologis sikap seperti itu sama sekali tidak efektif untuk memotivasi siswa atau merubah perilaku bahkan berpotensi besar menimbulkan trauma psikologis dan melukai harga diri siswa, apalagi untuk mahasiswa yang sudah mememiliki rasa “harga diri” yang lebih tinggi.
Ya efek yang paling keliatan adalah penurunan sifat “killer” sebagian besar dosen dosen penguji di Indonesia. Mereka melakukan hal tersebut karena mereka dulu juga dibegitukan😀
3. Khusus untuk pendidik di perguruan tinggi. Seharusnya kita bisa lebih melihat mahasiswa kita setara dengan kita dalam hal diskusi ilmiah, agar mereka berani mengemukanan pendapat sehingga banyak tercetus ide atau gagasan baru. Karena sejatinya mahasiswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan mandiri untuk siap menghadapi dunia kerja. Sehingga ketika kita menguji seorang mahasiswa, jangan tempatkan mereka pada posisi sebagai sosok dengan kepala kosong, yang tidak tau apa apa. Anggap mereka datang sebagai setengah gelas terisi, yang setengah isinya digunakan untuk menjawab, mengklarifikasi dan menjelaskan apa yang sudah mereka kerjakan dan setengah kosongnya digunakan untuk menampung masukan dan saran dari penguji.
Demikian halnya dengan penguji, sebelum menguji baca dulu naskah yang mau diuji. Dan ubah mindset, bahwa anda juga datang sebagai gelas setengah terisi, yang setengah isinya digunkana untuk memberikan saran berdasarkan pengetahuan kepakaran yang dimiliki, setengahnya untuk menampung informasi yang diberikan oleh mahasiswa yang diuji. Sehingga ujian menjadi lebih bermanfaat dan tidak membuat stress mahasiswa.

4. Menurut saya pribadi, mind-set menguji dirubah menjadi meminta klarifikasi. Sehingga bahasa yang digunakan akan lebih mereka tangkap sebagai sebuah bahasa diskusi.
Contoh:

Bahasa menguji:
“ coba jelaskan mengenai persamaan poisson yang anda gunakan dalam model matematik anda?”

Bahasa klarifikasi:
“ Anda menggunakan persamaan poisson dalam pembentukan model matematik studi kasus anda, saya kurang paham apa alasannya? Bagaimana anda menurunkannya?”

Nha bahasa meminta klarifikasi akan cenderung lebih kontruktif dan menggali informasi.

Dan jika memang mahasiswa memang sudah mampu menjelaskan dan membuat anda menjadi paham, tidak ada salah nya untuk memberikan compliment, seperti misalnya:

“ Ok, terima kasih, saya sudah paham maksud anda”……Jangan terus dimentahkan.

5. Hindari menggunkan kata-kata atau sikap negative karena justru akan menjatuhkan mental mahasiswa kita. Seperti halnya kasus kawan saya tadi, saya tau persis betapa ia sudah belajar setengah mati mempersiapkan semuanya, dan karena jatuh mentalnya dengan kata kata dan sikap negative salah satu penguji tersebut, justru membuatnya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan penguji. Jadi examiner tidak mendapatkan informasi yang diperlukan kan?…Apakah itu yang ditujukan dalam sebuah sidang ujian ntah untuk apapun itu?
Last but not least, MARI MENJADI PENGUJI YANG MENJADI PATNER DISKUSI
IMHO

Resensi Film: SOEKARNO

Soekarno Indonesia Merdeka

Film ini adalah film besutan salah satu sutradara berkualitas Hanung Bramantyo. Akhir2 ini saya banyak mendengar dari infotaintment bahwa film yang mengangkat kisah mengenai perjuangan Soekarno memperjuangkan kemerdekaan Indonesia digugat oleh salah satu putri bung Karno, Rachmawati Soekarno Putri. Menggugat pihak produser film Soekarno melalui pengadilan Niaga, karena pada awalanya konon ibu Rachmawati inilah yang mempunyai niat untuk membuat film Soekarno. Namun ditengah perjalanan, ibu Rachmawati tidak setuju dengan dipilihnya Ario Bayu sebagai pemeran sosok Soekarno. Berawal dari selisih paham inilah yang kemudian munculnya gugatan bu Rachmawati yang meminta penayangan film Soekarno di seluruh Indonesia dihentikan.
Pagi saya mendengar berita itu di Trans TV, langsung saya mengajak suami saya ke XXI. Kala itu saya bilang ke suami, “mumpung film ini belum ditarik, hayuk buruan nonton.”

Sesungguhnya awalnya tidak terlalu tertarik menonton film Soekarno ini, namun seteru ibu Rachmawati soal Ario Bayu dan soal tuduhan beliau bahwa skenario film ini tidak sesuai dengan sejarah yang menjadikan Soekarno sbg tokoh antagonis dan Syahrir sebagai tokoh protagonis, justru membuat saya penasaran. Apa iya seorang sutradara sekelas Hanung Bramantyo mau gegabah membuat film yg skenarionya menyalahi sejarah? Bukan untuk membela Hanung, Cuma masak iya dia tidak riset dulu sebelum buat film? Dengan nama besar Soekarno, dan pertalian sejarah antara Soekarno dan kemerdekaan Indonesia, rasanya bodoh saja klo film Soekarno ini adalah film yang menyalahi sejarah, bisa habis reputasi Hanung.

Untuk menjawab rasa penasaran itu, makanya saya akhir langsung nonton film Soekarno hari itu juga:D.
Saya akan mulai menceritaan sedikit gambaran filmnya. Film diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, semua penonton diminta berdiri dan bernyanyi bersama (saya melewatkan scene ini karena saya harus sholat ashar dulu, penayang film jam 15.25).

Film ini sedikit diawalai masa muda Soekarno yang ternyata saat Lahir bernama Kusno, namun karena sering sakit sakitan sehingga dilakukanlah ritual mengubah nma, dengan harapan kan sehat kembali. Nama Soekarno ini diambil dari tokoh pewayangan, yaitu Karna yang merupakan panglima perang Barata Yuda. Adapatasi bahasa jawa yang kemudian menjadikannya Karno dan akhirnya tercetusnya nama Soekarno.
Sedari kecil Soekarno termasuk anak yang beruntung karena dapat mengenyam pendidikan formal dengan baik hingga perguruan tinggi. Ini tak lain karena beliau masih keluarga bangsawan. Namun demikian, dari film tersebut digambarkan Soekarno sudah mulai tidak nyaman melihat bangsa pribumi banyak yang menjadi budak. Suatu hari Soekarno muda digambarkan bersilaturahim ke rumah salah satu rekan sekolahnya yang merupakan orang Belanda. Disitu Soekarno melihat banyak sekali pekerja yang memberihkan kebun adalah bangsa pribumi. Lebih-lebih saat itu Soekarno juga dimaki-maki oleh ayah teman sekolahnya tadi dengan kata-kata kasar yang intinya mereka tidak sederajat jadi tida boleh berteman lebih.

Dari situ soekarno mulai merasakan, dalam bahasa saya, betapa kurang ajarnya Beland ini, sudah menumpang di negara orang, justru penduduk asli dijadikan budak, penduduk kelas dua. Dia meluapkan kemarahannya dengan berorasi seroang diri didalam kamarnya. Film ini berusaha menunjukkan awal mula kehebatan pidato-pidato bung Karno yang sangat agitatif melalui scene tadi.

Scene Soekarno dewasa dalam film inii dimulai dengan penggambaran sosok ibu Inggit Ganarsih, istri kedua bung Karno, yang sangat besar perannya dalam perjuangan bung Karno. Bu inggit tercatat dalam sejarah (namun tidak setenar ibu Fatmawati) adalah istri Bung Karno yang membersamai bung Karno dalam masa-masa sulit perjuangan. Ibu Inggit adalah istri yang selalu setia mengikuti dan mengabdi pada suaminya dimanapun bung Karno di buang dan diasingkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda. Dalam film ini saya baru mengetahu bahwa sosok ibu Inggit merupakan sosok yang cukup pandai dan memiliki prinsip yang kuat. Bahkan ada satu scene percakapan yang menyebutkan pendapat bu Inggit mengenai Hatta dan Syarir. Beliau mengatakan “ aku tidak suka Hatta dan Syahrir karena selalu menganggap aku sangat dominan terhadapmu (mu disini adalah bung Karno).” Ini menunjukkan bahwa ibu Inggit punya pengetahuan yang cukup sehingga dianggap syahrir dan Hatta seringkali mempengaruhi pendapat dan keputusan bung Karno.

Scene bung Karno bersama ibu Inggit dan ketiga anak angkat mereka paling lama digambarkan saat bung Karno dibuang ke bengkulu. Disinilah dikisahkan bung Karno bertemu dengan Fatmawati yang ternyata merupakan salah satu dari murid bung Karno disekolah dan teman sepermainan Kartika salah satu putri angkat bung Karno dan ibu Inggit. Saya bilang ternyata, karena memang saya baru tahu, bahkan saya juga baru mengetahui bahwa ketika bung Karno dibuang ke Bengkulu, beliau selain tetap berpolitik juga berprofesi sebagai guru. (pengetahuan sejarah saya memang parah ).
Singkat cerita digambarkan dalam film ini bahwa bung Karno dan Fatmawati saling jatuh cinta. Bung Karno meminta ijin kepada ibu Inggit untuk menikah lagi, dan sudah dapat ditebak, ibu Inggit sangat kecewa, dan digambarkan sangat marah.

Kisah cinta Fatmawati dan Soekarno terputus, saat Belanda mengalami kekalahan perang dan singkat cerita Soekarno akhirnya kembali ke Jakarta. Disinilah baru muncul tokoh Moehammad Hatta dan Sutan Syahrir. Syahrir digambarkan sebagai sosok pejuang yang sering bersebrangan dengan Soekarno, sedangkan Hatta berusaha selalu menjadi penengah bagi mereka berdua. Kala itu Sutan Syahrir selalu mempunyai pemikiran tidak akan tunduk kepada kemauan kolonial penjajah, apapun bentuknya dan apapun tujuannya. Dia lebih bersikap frontal dan menyerang untuk merebut dan mendeklarasikan kemerdekaan.

Saat belanda bangkrut karena kekalahannya pada perang Dunia II, Jepang kemudia ganti menduduki Indonesia. Saat itu Soekarno yang dikenal sebagai pemimpin yang paling wahid menaklukkan hati rakyatnya menjadi incaran Jepang untuk dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Soekarno diminta untuk melakukan kampanye-kampanye domestik yang mendukung program-program Jepang. Seperti menyerukan pemuda-pemuda Indonesia untuk ikut serta dalam barisan PETA yang merupakan cikal bakal TNI, kerja paksa untuk memenuhi kebutuhan Jepang, hasil pertanian diserahkan ke Jepang untuk keperluan logistik Jepang bahkan sampai dibuatnya lokalisasi untuk memuaskan nafsu-nafsu biadap tentara2 Jepang. Soekarno menerimanya, namun dalam film ini ditunjukkan bahwa Seokarno mau melakukan itu semua karena janji Jepang yang akan membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi masa-masa penjajahan Jepang memang seringkali bisa dilihat dari berbagai sisi tergantung posisi dia saat itu. Untuk para pejuang intelektual seperti halnya Soekarno, Hatta, Amir Sjarifudin, dll, mungkin saat itu justru angin segar akan peluang kemerdekaan republik ini, namu buat para rakyat kecil itu saat mengenaskan ketika mereka harus menjalani romusha kerja paksa, para wanita itu saat mengenaskan ketika mereka harus melayani nafsu bejat tentara2 jepang, para tentara PETA mereka harus ikut berperang untuk kepentingan Jepang yang bukan tanah airnya.

Disisi lain, Syahrir sangat menentang keras sikap Soekarno yang sangat mau berkompromi dengan pemerintahan Jepang dan menganggap itu tidak akan berhasil untuk meraih kemerdekaan Indonesia bahkan dianggap takluk pada dominasi Jepang. Beberapa perseteruan antara Soekarno dan Syahrir digambarkan dalam film ini, dan lagi-lagi bung Hatta selalu berusaha menengahi.

Tanggal 12 Agustus 1945, pemerintahan Jepang menyatakan Indonesia sudah lepas dari kekuasaan Jepang. Saat itu mereka mengatakannya didepan Soekarno dan Hatta. Namun buat Syahrir itu tidak cukup. Syahrir mengatakan kita wajib memplokamirkan kemerdekaan kita, karena kemerdekaan Indonesia bukan hadiah Jepang. (lagi –lagi saya baru tahu jika ide proklamasi justru berawal dari sutan Syahrir, tapi mengapa sejarah yang saya pelajari sewaktu SMU dulu tidak mengatakan hal itu). Saat itu Soekarno tidak menyepakati saran dari syahrir. Sampai kemudian sekelompok pemuda sempat menculik bung Hatta dan Bung Karno ke yogyakarta untuk memproklamirkan kemerdekaan RI. Saat mengetahui hal itu, bung Syahrir marah besar, dan meminta bung Karno dan bung Hatta dikembalikan ke Jakarta.

Ada sebuah scene yang menggambarkan bung Karno, bung Hatta kembali dipertemukan dengan para petinggi Jepang termasuk Laksamana Maeda. Dalam pertemuan tersebut dikatakan bahwa Jepang telah menyerahkan kekuasaan terhadap indonesia pada Sekutu karena Jepang telah dikalahkan oleh sekutu. Padahal beberapa hari sebelumnya Jepang telah menyerahkan kemerdekaan RI dan selama ini telah berjanji kepad Soekarno dan Hatta bahwa mereka akan membantu kemerdekaan RI jika Soekarno mau mengagitasi rakyat Indonesia membantu kepentingan Jepang. Saat itu saya baru menyadari bahwa bukan hanya bung Karno yang singa, tapi juga bung Hatta. Ditengah –tengah kemarahan bung Karno yang dibungkus dengan sikap diam, bung Hatta bersuara: “ ini kah janji seorang Samurai?” sontak pernyataan bung Hatta langsung memicu amarah salah satu petinggi Jepang, namun diredam oleh Laksamana Maeda. Laksamana Maeda berkata: “ kita sudah kalah, jangan lebih permalukan diri kita lagi dengan mengingkari janji.”

Suami saya berujar: “ini menggambarkan kenyataan bahwa Jepang punya harga diri yang tinggi. Banyak warga negara Jepang yang malu dengan catatan sejarah bangsanya yang pernah memperbudak Indonesia.”
Laksamana Maeda lha yang kemudian menjamin keselamatan Soekarno Hatta dan beberapa kawan lainnya saat proklamasi kemerdekaan. Dan scene film ditutup dengan prosesi proklamasi RI dengan menggunakan suara asli bung Karno.
Kembali ke kisah ibu Inggit. Diceritakan dalam film ini ibu Inggit masih menemani Soekarno di Jakarta setelah sekembalinya dari pengasingan, dan mendampingi beliau dalam perjuangan kemerdekaan. Namun Sokearno tetap berhubungan dengan Fatmawati. Digambarkan walapun Fatmawati tahu Soekarno telah beristri, namun Fatmawati tetap ingin menikah dengan bung Karno. Soekarno sangat tidak ingin menceraikan Inggit, karena beliau tahu bagaiman Inggit menunjukkan baktinya bagi seorang istri kepada Soekarno. Namun diceritakan dalam film ini bahwa Soekarno menginginkan keturunan, sehinggah disamping karena memang telah jatuh cinta pada Fatmawati, Bung Karno bermaksud memadu Inggit untuk mendapatkan keturunan dari Fatmawati. Namun ibu inggit tetap pada prinsipnya, dia tidak mau di madu, sehingga beliau mundur dan meminta untuk dicerai. Ada adegan dimana bu Inggit mengatakan: “ sudah cukup aku mendampingimu sampai gerbang perjuangan ini.” dan saat ibu Inggit memakaikan kopiah kepada bung Karno serta merapikan bajunya untuk yang terakhir kalinya sambil menangis, akupun ikut menangis. Inilah salah satu scene yang membuatku menangis selain scene romusha. Aku seakan bisa berempati dengan apa yang dirasakan ibu Inggit saat itu. Beliau yang ada pada saat-saat sulit bung Karno, namun akhirnya harus ditinggalkan demi Fatmawati yang kemudian menjadi ibu negara. Seperti sebuah karma, ketika ia meninggalkan suaminya demi bung Karno.

Film ini menurut saya cukup berhasil untuk menceritakan Soekarno sebagai seorang tokoh intelektual yang dimiliki bangsa Indonesia yang kemudian menjadi salah satu yang paling berperan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang juga seorang manusia dengan kisah-kisah cintanya dan pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak semua benar. Cukup berhasil disini saya wakilkan dengan indikator bahwa film ini proporsional, tidak dilebih-lebihkan, tidak dkurang kurangi, tidak ditutup tutupi, tidak hanya menggambarkan kehebatan-kehebatan Soekarno saja yang mungkin selama ini lebih banyak didengar, tetapi juga kelemahannya, juga Kehebatan-kehebatan tokoh lain yang mungkin tidak setenar bung Karno.

Lebaran Tanpa Ketupat

Tahun ini adalah giliran kami berlebaran di keluarga Jember. Kami tidak ke rumah eyang di Pacitan seperti 2 tahun yang lalu. Kami dijemput oleh mas Bayu di Surabaya beserta Devi, Alya dan Reza. Oia, Reza anaknya mas Bayu tahun ini diajak untuk lebaran di Jember mumpung ada temennya, Alya. Dua anak ini beda banget. Reza pendiam, Alya petakilan. Reza rangking 2, Alya rangking 2 puluh lima hehe… Tapi ada satu kesamaannya, sama-sama item gosong dan mabok selama perjalanan.

Alya,Reza & Daiva

Alya,Reza & Daiva

Liburan kali ini lebih rame, selain ada mbak Sukma (yang langsingan,turun 15kg secara alami euy) dan Reza, mas Bayu dan mbak Ardinana beserta 3 jagoannya juga sering main ke rumah. Daiva juga lagi lucu-lucunya, seneng liat video lagu anak-anak dan niru gerakannya. Tapi galaknya tetep sih terutama kalo keinginannya ga diturutin.

Daiva

Daiva

Kebiasaan buka puasa di keluarga Jember sedikit beda dengan di Indramayu. Di Indramayu dibiasakan selalu ada kurma untuk tajil selain makanan ringan lainnya. Makan besarnya baru setelah sholat maghrib. Di Jember, kurma tidak masuk dalam daftar tajil dan langsung makan besar setelah buka puasa. Kebiasaan shalat tarawih di Jember juga beda. Aku sempet tarawih di musholla deket rumah. Total rakaatnya 15, 12 tarawih dan 3 witir. Sebuah alternatif bagi yang merasa 11 rakaat terlalu sedikit dan 23 rakaat terlalu banyak.

Tiba juga saatnya pengumuman Idul Fitri. Alhamdulillah tahun ini tidak ada perbedaan antara Muhammadiah dan pemerintah walaupun awal ramadhannya beda. Kami pergi ke alun-alun kota untuk melihat suasana malam takbiran. Cuaca saat itu hujan ringan, jadi alun-alun tidak terlalu ramai. Tidak ada acara rame-rame seperti pawai atau pesta kembang api, hanya masyarakat yang bermain kembang api masing-masing.

main kembang api

main kembang api

Shalat idul fitri kami tunaikan di lapangan dekat rumah. Imam dan khatibnya adalah Eggy Sudjana, salah satu calon gubernur Jawa Timur tahun ini. Isi ceramah awalnya masih menyangkut tentang idul fitri namun lama-lama berbau politik, cenderung menjelekkan para pemimpin saat ini, bukannya mendoakan. Ada pengumuman menarik sebelum pelaksanaan sholat ied yaitu tentang sajadah yang ketinggalan saat pelaksanaan sholat Idul Adha tahun lalu.

sebelum sholat ied

bersiap untuk sungkeman

bersiap untuk sungkeman

Ada kebiasaan lagi yang berbeda di sini saat lebaran. Tidak ada ketupat, hanya lontong. Ketupat baru ada saat hari ketujuh, lebaran ketupat istilahnya. Hari pertama lebaran kami isi dengan silaturahmi ke tetangga, Bude di Tanggul dan Pakde Daroh. Besoknya kami ke rumah Om Watok di Situbondo, sekitar 3 jam dari Jember. Mas Bayu dan mbak Ardiana beserta 3 jagoannya juga ikut. Kami sholat Jumat di masjid dekat rumah om Watok, masjid Nurul Muttaqin desa Sumber Anyar Situbondo. Ceramahnya begitu singkat dan dalam bahasa arab, sampe-sampe aku ga sadar bahwa itu ceramah, tau-tau udah duduk di antara 2 khotbah. Selain itu juga ada beberapa jamaah wanita yang ikut sholat Jumat.

Sepanjang perjalanan pergi pulang Alya muntah dan badannya menggigil. Kami pikir cuma masuk angin jadi kami beri obat penurun panas dan obat masuk angin. Tapi sampe rumah ternyata ga membaik, akhirnya malam itu juga dibawa ke dokter karena besoknya kami rencana mau ke rumah orangtuanya Yudho di Malang. Panas tubuhnya ternyata sampe 40,2 derajat dan jadinya harus dirawat malem itu juga. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan adanya infeksi lambung. Alya pun dirawat 4 hari 3 malam. Kasian juga liat Alya sakit ni, yang biasanya makan sehari bisa 8 kali, sekarang makan 3 sendok aja susah. Itu pun akhirnya dimuntahin juga dan aku yang bagian nadahin muntahannya. Gagal sudah rencana ke Malang dan malah akhirnya keluarga Malang yang ke Jember beberapa hari kemudian.

para penunggu

para penunggu

Sebagai pengganti ke Malang, kami ke Gumitir, rest area di jalan antara Jember-Banyuwangi. Sepanjang jalan yang naik dan berkelok, banyak orang minta-minta di pinggir jalan. Tempatnya di dataran tinggi jadi suasananya sejuk dan udaranya segar. Sepanjang jalan Daiva minta dinyanyiin lagu ‘unung’ alias naik-naik ke puncak gunung. Di sana ada cafe, arena outbond, flying fox dan naik kuda. Alya yang baru sehari keluar rumah sakit mulai keliatan aslinya, dia minta flying fox dan naik kuda. Tapi kami larang.

kursi raksasa

kursi raksasa

kereta kelinci

kereta kelinci

Selain itu ada mobil wisata untuk keliling kebun kopi milik PTPN di area itu dan berhenti di terowongan kereta api jaman belanda dan pabrik pengolahan kopi. Sayangnya saat itu bukan musimnya, jadi tidak ada aktifitas di sana. Perjalanannya sekitar 1 jam. Menyenangkan bisa menghirup udara yang sangat segerrr, sebuah kemewahan di kota besar.

menikmati udara segarrr

menikmati udara segarrr

Takzimku untuk suami tercinta

Pagi yang Insya Allah selalu Allah rahmati, hatiku basah mengucap syukur atas nikmat luar biasa yang kurasakan pagi tadi.

Hari kemaren aku disibukkan dengan berjibun meeting dari pagi hingga sore. Terlanjur berjanji dengan mahasiswa Tugas akhir untuk menyelesaikan revisi akhir project mereka, akhirnya pukul 16.30 setelah selesai semua meeting aku temui mereka melanjutkan diskusi project beberapa hari lalu. Aku telp suamiku untuk minta ijin tidak bisa menemaninya berbuka karena sudah pasti diskusi dua project dengan dua kelompok mahasiswa ini akan memakan waktu lama. Seperti biasa walau kecewa suamiku selalu bisa memahami dan berpesan untuk jangan pulang terlalu malam dan berhati-hati.

Aku berbuka bersama mahasiswa ditengah2 diskusi kami. Sekitar pukul 20.00 diskusi kami selesai dan aku mulai berkemas-kemas untuk pulang. Alhamdulillah perjalanan pulang lancar dan tidak macet, hanya perlu satu jam, pukul 21.00 aku sudah sampe di rumah.

Penat sekali rasanya badan ini, dan suamiku ternyata sudah menyisihkan kolak manis dingin untuk ku, Alhamdulillah segarrrr .

Ingin beranjak sholat isya dan tarawih rasanya badan sudah tidak mampu. Akhirnya setelah bersih diri aku hanya menunaikan ibadah sholat isya, dan langsung terlelap tidur. Padahal biasanya setelah sholat isya & tarawih aku msh kuat untuk memasak nasi untuk sahur, menyiapkan bahan untuk lauk sahur, sehingga besok paginya lebih cepat untuk menyiapkan makanan sahur.

Sekitar Pukul 3.45 dini hari suamiku membangunkanku, Cuma rasanya mata ini susah sekali untuk dibuka, badan ini berat sekali untuk berdiri. Aku pun terlelap kembali, tak berselang lama suamiku kembali membangunkanku dan hanya memintaku untuk menunaikan ibadah sholat tarawih yang belum sempat kutunaikan semalam. Setelah menyelesaikan sholat tarawih 11 rakaat aku beranjak keruang tengah dan kudapati suamiku telah menyiapkan makanan sahur: nasi putih, indomie rebus yang kelebihan kuah:D, tahu goreng dan otak-otak goreng. Sederhana, tapi Subhanallah nikmatnya tak terkiraa

Bersyukur rasanya Allah karuniakan seorang pendamping hidup yang selalu mendukung setiap langkahku, yang seringkali dengan iklas menggantikan peranku dikala aku dilanda kelelahan yang amat sangat, yang selalu memberiku semangat untuk tidak menelantarkan ibadah walaupun dalam keadaan sibuk dan lelah sekalipun.

Beliau sebenarnya tidak kalah sibuk denganku bahkan seringkali jauh lebih sibuk. Cuma kekuatan fisik dan kemampuan manajemen waktu yang beliau miliki harus kuacungi jempol. Seringkali aku terlelap terlebih dahulu sementara beliau masih didepan laptop jadul kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kantornya. Namun sama sekali tak mengurangi energinya untuk kembali memulai aktivitas di keesokan harinya.

Ya Allah pagi ini aku berdoa, berikanlah suamiku senantiasa kesehatan & keselamatan, keridhoan dalam setiap langkahnya dan muliakanlah Ia ya Rabb…Aamiin

Takzim ku untuk Suami tercinta

Ujian atau Peringatan?

Bulan ini ada beberapa teman kantor yang pergi umroh. Jadi inget ada draft postingan tentang umroh yang belum aku selesaikan. Ini dia:

Kata orang, hal-hal tidak menyenangkan yang kita alami selama haji/umroh adalah balasan atas perbuatan kita sehari-hari. Misalkan ada seseorang yang kehilangan uang ketika haji/umroh, maka biasanya orang tersebut dalam kesehariannya kurang dalam memberikan zakat, infak atau shodaqoh. Kami juga mengalami hal-hal tidak menyenangkan selama umroh.

Mules

Malam itu aku dan bapak bangun malam untuk sholat malam di Masjid Nabawi. Jam 2 pagi kami sudah berangkat ke sana dengan niat supaya dapat sholat malam di Raudah. Ternyata jam 2 pun Raudah sudah ramai, aku pun mengurungkan niat untuk sholat di sana dan memilih di bagian depan masjid. Sementara bapak tetap berusaha masuk ke area Raudah. Alhamdulillah aku dapat sholat malam dengan cukup tenang. Aku bilang cukup tenang karena masih ada beberapa orang yang lalu lalang di depanku saat sedang sholat.

Masalah dimulai saat mulai sholat Shubuh. Baru di rakaat pertama saat membaca al Fathihah, tiba-tiba perutku terasa mulas. Padahal selama sholat malam tadi perutku fine-fine saja. Aku coba menahannya bahkan sambil sedikit membungkukkan badan. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhku. Rasa mulas itu tidak berkurang sedikit pun. Aku sampai berdoa agar Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk menyelesaikan sholat Shubuh berjamaah ini. Namun rupanya Allah berkehendak lain. Belum sampai rukuk di rakaat pertama, aku tak kuasa lagi membendungnya. Ada sesuatu yang keluar dari belakang, untungnya tidak bunyi dan bau. Perasaanku campur aduk, antara sedih karena tidak bisa menyelesaikan sholat dan bingung harus apa. Akhirnya aku memutuskan untuk berpura-pura meneruskan sholat (semoga Allah mengampuni kesalahanku). Setelah salam, aku langsung buru-buru keluar masjid untuk kembali ke hotel karena aku merasa tadi (maaf) BAB di celana. Karena aku tadi sholat di shaf depan, sementara aku keluar lewat pintu King Fadh (berlawanan dengan arah kiblat), perjalanan keluar masjid rasanya lamaaa banget. Rasa mulas pun muncul lagi. Akhirnya begitu keluar masjid, aku langsung lari ke toilet yang ada di basement. Plong rasanya… Setelah tuntas, aku cek CD-ku. Ternyata kering dan tidak bau. Aku pun kemudian langsung sholat Shubuh di pelataran masjid Nabawi di saat jamaah lain mulai keluar masjid.

Ketinggalan Tas 

Setelah 3 hari beribadah di Madinah, kami melanjutkan perjalanan ke Mekah tanggal 6 Juli 2012. Kami niat umroh di Bir Ali yang terletak sekitar 10 km dari Madinah. Sekitar jam 10 malam kami sampai di Mekah. Barang bawaan kami langsung dibawakan oleh porter ke depan kamar, sementara kami mengganjal perut dulu. Setelah makan, kami diberi waktu 30 menit untuk menuju kamar dan kemudian berkumpul di lobi untuk langsung menuju Masjidil Haram melaksanakan ritual umroh. Saat sampai kamar inilah Afny baru sadar kalau tas jinjingnya ketinggalan di bis. Tas itu sengaja aku taruh di luggage bin karena sudah banyak tas yang kami pangku. Begitu turun, kami berdua lupa tentang tas itu. Isinya adalah make up, buku, dan perlengkapan pribadi Afny yang sulit dicari gantinya di Mekah. Afny pun panik. Aku segera menelpon mas Syafi’i, pembimbing umroh kami, untuk menanyakan apakah bis masih di depan hotel. Sayangnya bis telah kembali ke pool nya sejak tadi. Aku minta tolong untuk meminta supir bis itu kembali lagi ke hotel tapi mas Syafi’i menolak karena letaknya cukup jauh dari hotel. Afny sempat memarahi mas Syafi’i yang akhirnya datang ke kamar kami. Untungnya dia cukup sabar dan menenangkan kami dengan berjanji untuk menelpon supir bis agar mengamankan tas kami.

Menyesal karena telah memarahi mas Syafi’i, Afny pun seger menyusulnya ke lobi dan meminta maaf atas kemarahannya tadi. Sekali lagi, untungnya mas Syafi’i orangnya sabar dan tidak terlihat sakit hari walau sudah dimarahi. (Dan Alhamdulillah, keesokan paginya mas Syafi’i membawakan tas kami dalam keadaan utuh)

Ibu Hilang !!!

Setelah tragedi tas ketinggalan, rombongan kami langsung menuju Masjidil Haram dengan berjalan kaki. Jarak dari hotel kami ke Masjidil Haram sekitar 300 m. Sepanjang jalan banyak hotel-hotel yang sedang direnovasi, akibatnya jalanan kotor dan berdebu. Tapi debu-debu itu terasa sirna begitu kami melihat Masjidil Haram. Hatiku dipenuhi oleh rasa bahagia karena dapat mendatangi Baitullah yang selama ini hanya aku lihat di atas kertas atau layar kaca. Begitu masuk masjid dan melihat Ka’bah, seketika aku merasa kecil. Bukan karena bangunan Ka’bah yang besar atau karena melihat jamaah dari negara lain yang badannya lebih besar, tapi karena begitu besarnya kuasa Allah untuk menggerakkan hati begitu banyak manusia untuk mendatangi Baitullah. Tidak lupa kami pun membaca doa melihat Ka’bah.

Ritual umroh pun kami laksanakan bersama-sama dengan dibimbing oleh mas Syafi’i. Selama tawaf, segala keinginan dan keluh kesah kami adukan kepada-Nya, satu-satunya tempat mengadu. Keinginan kami agar mendapatkan keturunan dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah,warahhmah yang langgeng kami sampaikan di sana. Lega rasanya hati ini.

Ibadah pun kami teruskan dengan sa’i, berjalan diselingi lari-lari kecil antara Safa dan Marwa. Aku merasa malu dan tidak ada apa-apanya dengan Siti Hajar yang berlari bolak-balik antara Safa dan Marwa yang saat itu merupakan lahan terbuka. Sementara sekarang sudah beralaskan marmer yang dingin dan beratap. Itu pun masih dilengkapi dengan AC, kipas angin dan tempat minum zamzam.

Selesai tawaf, maka selesailah ibadah umroh kami. Alhamdulillah… Kami pun segera menuju tempat minum terdekat untuk menghilangkan dahaga. Aku dan Afny sengaja berjalan paling akhir, selain karena kaki Afny sakit juga untuk jadi tim penyapu siapa tahu ada rombongan yang ketinggalah. Dari kejauhan aku lihat mbak Nining dan Bapak, tapi Ibu tidak kelihatan. Ah, pasti Ibu juga bersama mereka pikirku. Setelah minum dan mengisi botol minum dengan zamzam, kami pun berjalan menuju pintu King Abdul Aziz, tempat pertama kami masuk Masjidil Haram dan meletakkan sandal. Sesekali kami juga berfoto dengan latar belakang Ka’bah. Belum sampai pintu tersebut, kami bertemu mbak Nining dan Bapak. Mereka bertanya apakah melihat Ibu. Ternyata mereka meninggalkan Ibu yang sedang mengisi botol minum, karena saat itu masih ada beberapa jamaah yang lain. Kami berempat pun kembali ke tempat minum tadi. Tapi nihil, Ibu tidak ada di sana. Aku langsung menghubungi mas Syafii, pembimbing kami. Ternyata dia sudah pulang karena dia ada keperluan lain sementara para jamaah masih ingin istirahat di masjid.

Akhirnya kami kembali ke pintu King Abdul Aziz dan bertanya ke jamaah yang memang menunggu kami. Tidak satupun dari mereka yang melihat Ibu, kecuali salah seorang bapak. Dia melihat seseorang yang mirip ibu berjalan keluar. Kami berempat segera keluar tanpa alas kaki sampai batas halaman masjid. Ibu tidak terlihat. Kami pun berbagi tugas, aku dan Afny mencari Ibu ke hotel sementara Bapak dan mbak Nining menyusuri masjid. Sepanjang jalan menuju hotel aku bilang ke Afny kalau kecil kemunginan Ibu kembali ke hotel sendirian, apalagi tanpa alas kaki. Belum lagi saat itu malam hari dan Ibu belum tentu hafal lokasi dan nama hotelnya. Sebenarnya tiap jamaah dibagikan kartu nama hotel. Tapi kartu milik Ibu dititipkan ke mbak Nining dengan alasan khawatir hilang. Afny tidak mempedulikan keluhanku dan tetap bersikukuh untuk menuju ke hotel. Begitu sampai pintu hotel terlihat Ibu tanpa alas kaki sedang berbicara dengan petugas resepsionis. Kami langsung menghambur memeluk Ibu. Afny sambil mengucurkan air mata meminta maaf pada Ibu. Dengan tenang dan tanpa air mata, Ibu menenangkan Afny bahwa semua bukan kesalahan kami. Aku segera menelpon mbak Nining untuk mengabari bahwa Ibu sudah kami temukan.

Ternyata waktu Ibu mengisi botol minum, mbak Nining dan Bapak izin duluan untuk mengambil sandal. Waktu itu memang masih ada beberapa jamaah. Tapi setelah selesai mengisi air, Ibu tidak melihat satupun jamaah termasuk kami. Kami pun tidak melihat Ibu padahal kami berjalan paling akhir. Akhirnya Ibu berjalan menuju pintu King Abdul Aziz sambil berharap bertemu dengan rombongan. Bahkan Ibu beberapa kali berhenti dan memutar tubuh dengan harapan ada jamaah yang melihat mukenah Ibu yang eye catching. Akhirnya Ibu pun memutuskan untuk berjalan menuju hotel.

Kaki Bapak Sakit

Tanggal 9 Juli 2012, kami melakukan umroh yang kedua. Kami mengambil niat dari Ji’ronah, setelah sebelumnya ziarah ke Jabal Tsur & Jabal Rahmah. Umroh kami mulai setelah sholat dhuhur. Kebayang kan panasnya. Kami berdua sengaja memisahkan diri dan berjalan  di belakang rombongan supaya bisa lebih khusuk, sekaligus mengawasi kalau-kalau Ibu terpisah dari rombongan lagi.

Sejak tawaf Bapak sudah mulai terpincang-pincang jalannya. Memang sejak beberapa bulan sebelum umroh, Bapak mengeluhkan kaki kirinya yang sakit. Sudah berobat kesana kemari tapi belum juga sembuh. Sehari sebelumnya ternyata Bapak melakukan tawaf setelah sholat. Niatnya sekalian menguji apakah kakinya masih kuat untuk umroh esok harinya. Tapi hasilnya setelah umroh Bapak jadi tidak kuat jalan lagi. Awalnya Bapak ingin istirahat di masjid sambil menunggu Ashar dan menyuruh kami untuk duluan saja kembali ke hotel. Tapi kami tidak tega membiarkan Bapak sendirian di masjid dengan kaki sakit, tanpa makanan dan masih menggunakan kain Ihram. Akhirnya kami menuntun Bapak untuk kembali ke hotel. Hari itu Bapak sholat Ashar di hotel saja.

Dari kami berlima, hanya mbak Nining saja yang tidak mengalami kejadian tidak menyenangkan selama umroh. Terlepas dari apakah hal-hal di atas merupakan ujian atau peringatan bagi kami, yang jelas itu adalah pengalaman yang tidak akan kami lupakan.

Maaf, Makan & Main

Tahun ini giliran kami untuk lebaran di rumah orangtuaku di Indramayu. Jarak rumah kedua orangtua kami yang jauh (Indramayu & Jember) hanya memungkinkan kami lebaran di satu tempat saja.

Lebaran selalu marak dengan momen maaf-maafan. Begitu banyak tamu yang datang ke rumah untuk maaf-maafan, walaupun ada juga beberapa yang datang untuk berobat. Oia, bapak adalah seorang mantri (perawat) yang sudah lama buka praktek di rumah. Sedangkan ibu adalah pensiunan guru SD yang sebelumnya sempat cukup lama menjabat kepala sekolah. Mantan-mantan muridnya,baik yang masih sekolah maupun yang sudah punya anak,rutin datang ke rumah saat lebaran. Saking banyaknya tamu, kami jadi tidak punya waktu untuk sungkeman dengan bapak ibu. Praktis kami baru bermaaf-maafan setelah sholat Dhuhur berjamaah. Selain dengan tetangga, kami juga maaf-maafan dengan sanak famili. Keluarga besar orangtuaku punya tradisi halal bi halal setelah lebaran, keluarga ibu pada 2 syawal dan bapak pada 3 syawal.

Lebaran juga identik dengan masak & makan, begitu juga lebaran kami (lebih tepatnya Afny masak & aku makan). Kebetulan tahun ini rumah ibu menjadi tempat halal bi halal keluarga besarnya, Bani Kartawi. Ibu, mbak Nining & Afny pun berkutat di dapur. Ibu masak sambal goreng, mbak Nining bikin pecel, Afny bagian salad buah. Besoknya giliran halal bi halal keluarga besar bapak, Bani Ghazali. Kali ini ibu, mbak Nining & Afny nggak perlu masak, cukup datang dan menyantap makanan. Nah baru keesokan harinya mereka bertiga berkutat lagi di dapur, kali ini bikin nasi kuning untuk syukuran hari lahirku & Alya. Aku sudah 30 tahun & Alya baru 3 tahun🙂 . Sorenya Afny memasak makanan favoritnya, tomyam.

Lebaran kali ini juga penuh dengan acara bermain. Hari kedua lebaran mas Yandi,mbak Dian & si kecil Alya menginap di rumah. Wah, Alya sudah jauuh berbeda dengan tahun-tahun lalu, sudah nggak rewel lagi. Sudah mau diajak jalan dan main. Sudah hafal al-Fathihah & beberapa lagu. Juga sudah pintar merajuk. Hari itu Alya main terus sampai malam, tanpa tidur siang sebentar pun. Padahal kita semua udah pada capek. Waktu diajak tidur malam pun dia sudah bisa mengelak ‘Alya mau main dulu ya, nanti abis itu tidur’. Tapi ada satu yang belum berubah, Alya masih susah makan nasi. Setelah 2 suapan nasi, mbak Dian akhirnya nyerah. Nasi & sayur Alya pun di-blender, itu aja Alya masih lama makannya. Perlu 1 jam lebih untuk menghabiskannya (masih sisa beberapa suapan sih).

Selain maaf,makan & main, lebaran kali ini juga kami optimalkan untuk berbakti pada orangtua kami. Walaupun Jakarta-Indramayu cuma 2,5 jam naik kereta, nggak setiap bulan juga kami pulang. Makanya selama mudik kemarin sebisa mungkin kami habiskan waktu bersama mereka, baik membantu pekerjaan rumah atau sekedar ngobrol & bercanda untuk membahagiakan mereka. Kalau kata ustadz pas kultum dhuhur, orangtua akan senang kalau kita ‘memberikan’ diri kita, tidak hanya memberikan sesuatu di luar diri kita. Ketika kita memberikan uang atau barang, sesungguhnya yang kita berikan adalah sesuatu di luar diri kita. Namun ketika kita hadir di depan mereka, mendengarkan mereka, mengajak ngobrol mereka, saat itulah kita ‘memberikan’ diri kita untuk mereka sebagaimana mereka lakukan saat kita masih kecil.